News and Event

29 Mei 2o17

MEMBANGUN SEKOLAH UNTUK ANAK KEBUTUHAN KHUSUS, DATIN ROZIYATON: 'INI MIMPI SAYA'

Post By: Admin

K-LINK Care, Jakarta - Berawal dari mimpi untuk dapat mendedikasikan sebagian hidupnya membantu anak berkebutuhan khusus (ABK), Datin Roziyatun Jamaluddin pada November 2014 yang lalu akhirnya membangun sekolah khusus untuk ABK di daerah Sentul Bogor. Peletakan batu pertama pun sudah dilaksanakan di atas lahan 3 hektar pada November 2014.

blog-image

Banyaknya ABK dari keluarga tidak mampu di Indonesia, menggetarkan hati istri dari Presiden Direktur PT. K-Link Indonesia Dato' DR. H. Md. Radzi Saleh ini. Ide membuat sekolah khusus ABK berawal saat Datin Roziyatun membuka K-Care Center yang didirikan pada November 2012, di daerah Metland Cileungsi, Jawa Barat. Datin Raziyaton kala itu tidak membeli rumah melainkan mengontrak untuk dijadikan tempat belajar dan terapi khusus ABK

"Awalnya murid disini tidak begitu banyak, sekitar 20 orang saja, bukan karena tidak banyak yang berminat namun kapasitas dari gedung yang tidak memadai menjadi alasan kami membatasi jumlah ABK yang mendaftar. Murid disini anak-anak yang down syndrom, autis, dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder)," tutur Datin Roziyatun yang dikutip dari majalah Investor Daily.

Karena ditargetkan untuk ABK dari keluarga tidak mampu, K-Care Center tidak membebankan biaya kepada orang tua ABK. "Kami tidak mengratiskan biaya sekolah, namun orang tua murid dapat membayar dengan apapun, ada yang membayar dengan air mineral dan lain-lain," ujar Datin Roziyatun.

Kegelisahan Datin Roziyaton pada ABK tak berhenti pada hal pendidikan dan terapi saja. Ia juga memikirkan masa depan ABK apakah nantinya akan selalu tergantung pada orang tua, atau ABK tersebut dapat hidup mandiri. Dari situlah dirinya bertekad untuk membangun pusat terapi dan pendidikan yang memberikan keterampilan hidup bagi ABK. Untuk sementara pendidikan ABK tersebut akan berpusat di Malaysia.

"Karena ini ditujukan untuk para ABK remaja, maka selain terapi kami juga memberikan pendidikan keterampilan hidup seperti, musik, tata rias, memasak, dan sebagainya," kata Datin Roziyaton.

"Ikhlas dan Menerima"
Dedikasi Datin Roziyatun untuk ABK tidak ia ukur dari hal apapun, menurutnya dedikasinya selama ini untuk ABK semua keluar dari hati, membantu sesama dan berbagi untuk yang tidak mampu merupakan kewajiban setiap orang. Secara terbuka, Roziyaton berkisah kegiatan yang ia lakukan sekitar 2 tahun ini memang didedikasikan untuk puteri ketiganya Syamil Adiani.

"Ini memang semua keluar dari hati, kita hidup di dunia saja tidak selamanya abadi. Sebanyak apapun uang yang kita kumpukan akan ada orang lain yang mampu mengumpulkan banyak uang, hal itu juga tidak dapat kita bawa sampai mati, cukup mengucapkan alhamdulillah dengan apa yang ada sekarang, mudah-mudahan kita dapat berbagi," tutur lulusan internasional Islamic University Malaysia jurusan Public Relations ini.

"Ini tribute to anak-anak berkebutuhan khusus dan untuk puteri ketiga saya Syamil Adiani yang juga mengalami down Syndrom," lanjutnya tegar.

Sembari mengajari di Universitas, Datin Roziyaton pun bertekad dapat mendidik puteri istimewanya tersebut. Awalnya ia mengaku lelah karena harus membagi waktu untuk mengajar dan tetap mendidik dua puteri lainnya. "Saya juga sempat belajar bagaimana mendidik anak down syndrom ke Singapura," ungkap Datin Roziyaton.

Setelah suaminya Dato' DR. H. Md. Radzi Saleh ditugaskan mengembangkan bisnis K-LINK di Indonesia yang akhirnya Adiani pun bisa menempuh pendidikan di sekolah umum yang memiliki tenaga pengajar khusus ABK. "Di sana Adiani benyak mendapat kemajuan. Saya sempat tak percaya dia bisa bernyanyi dan menari Sama. Pesan saya kepada orang tua, berilah kepercayaan dan kebebasan untuk anak Anda bisa melakukan seperti anak-anak normal lainnya," ujarnya yang berharap para ABK nantinya mendapat tempat di lingkungan anak normal lainnya.